Telp

0354-6095010

Email

bhaktialkarim@gmail.com

keteguhan dhuafa yatim piatu di usia belia

Kehidupan tidak selalu memberikan awal yang mudah bagi setiap orang. Hal inilah yang dirasakan oleh seorang anak asal Desa Kandangan. Di usianya yang baru menginjak 5 bulan, ia sudah harus kehilangan sosok ayah untuk selamanya. Tak berselang lama, saat usianya masih sangat kecil, ia pun harus merelakan kepergian sang ibu. Kehilangan kedua orang tua di usia dini membuatnya tumbuh tanpa dekapan hangat ayah dan ibu kandung. Sejak saat itu, perjalanan hidupnya menjadi rangkaian adaptasi yang panjang. Hidup yang Berpindah-pindah Tanpa orang tua, ia kemudian diasuh oleh tantenya. Namun, kondisi menuntutnya untuk tidak menetap di satu tempat. Perjalanan hidup membawanya berpindah dari satu yayasan ke yayasan lainnya. Menjadi santri atau anak asuh di berbagai lembaga sosial tentu bukan hal yang mudah. Ia harus berkali-kali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, teman baru, dan aturan yang berbeda-beda. Semangat yang Tidak Padam Meski menyandang status yatim piatu sejak bayi dan harus hidup berpindah-pindah, anak ini tidak kehilangan keceriaannya. Semangatnya untuk menjalani hari-hari tetap besar, layaknya anak-anak seumurannya. Ia tidak membiarkan masa lalu yang pahit membelenggu langkahnya untuk belajar, bermain, dan bermimpi. Setiap tempat tinggal baru ia jadikan ruang untuk belajar tentang kemandirian. Baginya, berpindah-pindah yayasan bukanlah sebuah hambatan, melainkan cara bagi Tuhan untuk mempertemukannya dengan banyak orang yang menjadi keluarga baru baginya. Harapan Masa Depan Kisah anak dari Desa Kandangan ini adalah pengingat bahwa ketangguhan tidak lahir dari kenyamanan. Di balik sosoknya yang sederhana, tersimpan mental yang kuat hasil dari tempaan keadaan. Ia terus melangkah maju dengan harapan bahwa suatu saat nanti, kerja keras dan ketegarannya akan membuahkan hasil yang manis, baik untuk dirinya sendiri maupun orang-orang yang telah peduli merawatnya.

Berikut Cuplikan Dokumentasi Silaturrakhim